Rabu, 23 Oktober 2013

INTEGRITAS PEMIMPIN MENUJU KUNCI KESUKSESAN

Tingkat intelektual dan integritas pemimpin bangsa saat ini cenderung menurun dibanding dengan masa-masa sebelumnya. Pemimpin bangsa di zaman kemerdekaan seperti Agus Salim, dikenal memiliki pemikiran dan integritas yang mapan. Untuk keluar dari karut-marut persoalan yang tengah melanda saat ini, Indonesia membutuhkan figur pemimpin yang pemikir, rasional, namun tetap religius.


MENGAPA INTEGRITAS ITU PENTING BAGI SEORANG PEMIMPIN ?
Karena Integritas adalah kualitas yang harus di lakukan oleh seorang pejabat pemerintah. Dunia membutuhkan para pemimpin yang berpengaruh. Untuk mampu ,memiliki pengaruh setiap pemimpin harus memiliki Integritas .
Mengapa Integritas begitu amat penting sebab : Integritas memberikan Kuasa kepada kata-kata kita, memberikan kekuatan bagi rencana-rencana kita dan memberikan daya ( force ) bagi tindakkan kita.
Integritas berasal dari kata latin “ Integrated “ artinya “ komplit “, utuh dan sempurna. Yang berarti tidak ada cacat.
Pemimpin yang Berintegritas : adalah pemimpin yang tanpa kedok. Pemimpin yang berintegritas bertindak sesuai dengan ucapan, sama didepan dan ;dibelakang umum, konsisten antara apa yang diimani dan kelakukannya, antara sikap dan tindakkan, antara nilai hidup yang dianut dengan hidup yang dijalankan. Pemimpin yang berintegritas adalah pemimpin yang matang, tanpa kompromi, menolak pengakuan untuk dirinya sendiri. Di dalam menjalankan hidup serta pelayanannya pemimpin yang matang dan berintegritas berfokus untuk mencapai tujuan yang mulia. Seorang Pemimpin yang memiliki Integritas adalah yang memiliki integritas dalam etika dan moral.
Integritas dalam keberadaan benar dihadapan Tuhan dan benar dengan diri sendiri, Integritas dalam berpikir, integritas dalam berkomunikasi. Kunci mengembangkan Integritas : Perhatikan hal-hal kecil Katakan “ TIDAK “ kepada cobaan dan Jangan bedakan kehidupan didepan umum.
Profesionalitas adalah integritas yang teruji, abdi Negara yang professional adalah abdi Negara yang memiliki integritas yang teruji, tidak suka menggunakan aji mumpung memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, apalagi kesempatan dalam tanda petik yang selalu bermakna negative. Tidak mudah memang. Ada kesempatan untuk korupsi, kita menjadi bimbang. Sisi baik pada hati kita mengatakan jangan tetap sisi buruknya mengatakan tunggu apalagi. Mumpung ada kesempatan, , sebab kalau tidak akan banyak orang lain akan menggunakan kesempatan tersebut. Korupsi itu manis diawal-awalnya tetapi akan menjadi pahit banhkan sangat pahit di ujung-ujungnya. Profesional artinya jika kita bisa menahan diri melakukan penyimpangan seperti itu meskipun kesempatan itu sangat terbuka lebar. Abdi Negara yang professional tidak akan berani menggunakan kesempatan, apalagi mencuri-curi kesempatan. Integritas yang teruji merupakan modal utama bagi kita untuk menjadi pelayanan masyarakat yang benar-benar berjiwa melayani.
Di masa ini, karakter yang demikian bisa dikatakan satu berbanding seribu, inilah biang kerok kenapa pemerintah kita kurang profesional karena betapa susahnya mencari aparat pemerintah yang benar-benar memiliki integritas yang teruji. Yang banyak adalah aparat pemerintah yang suka mencuri-curi kesempatan. Kesempatan sudah ditutup rapat rapat tetapi dasar mentalnya rendah, ada saja celah-celah untuk melakukan penyimpangan. Hal ini bisa terjadi lantaran semua orang suka bermain kongkalikong, atasan dengan bawahan sama- melakukan penyimpangan.

Mengapa Pemimpin Harus Merasa Aman :
Rasa aman sangat penting bagi seorang pemimpin untuk menjalankan kekuasaan dan otoritasnya. Bila seorang pemimpin merasa tidak aman, ia akan membuat orang-orang disekitarnya menderita yang pada akhirnya, ia akan membuat dirinya sendiri serta pekerjaannya turut menderita, dan gagal sebagai seorang pemimpin. Pemimpin yang memiliki rasa aman mampu berfokus dalam kepemimpinannya. Karena tujuannya jelas yaitu mencapai visi dan misi bersama. Rasa akan memberinya keberanian untuk mengambil tindakan walau tidak popular sekalipun.
Integritas dalam hal kemurnian adalah satu tantangan yang sangat besar bagi para pemimpin. Keberhasilan sering kali memberi kesempatan bagi para pemimpin untuk jatuh kedalam pencobaan..
Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang memiliki integritas dalam masalah uang. Banyak pemimpin –pemimpin yang sangat handal jatuh karena melanggar integritas mereka dalam masalah uang.
“ Peringatan kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada ALLAH yang dalam kekayaannya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatan agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya. “

Betapa berdosanya jika kita tidak mau berubah untuk menjadi lebih baik, lebih professional dalam bekerja sehingga gaji yang kita makan benar-benar menjadi rejeki yang halal dan barokah bagi keluarga kita semua. Kalau ada kesempatan untuk menjadi aparat pemerintah yang baik, kenapa tidak kita gunakan dengan semaksimal mungkin ? Kenapa kita malah mencuri-curi kesempatan untuk menjadi orang yang tidak baik ?
ELEKTABILITAS DAN POPULARITAS. Istilah-istilah yang dipergunakan dalam pemilihan umum banyak yang masih sulit dicerna rakyat biasa. Kalau rakyat tidak tahu apa yang dikatakan, untuk apa ada kampanye? Pertanyaan yang perlu kita kemukakan, apa yang menjadi tujuan dari kampanye itu? Apakah sekedar untuk popularitas dengan sering tampil, atau untuk meningkatkan elektabilitas? Dalam masyarakat, sering diartikan, orang yang memiliki popularitas dianggap mempunyai elektabilitas yang tinggi. 

Sebaliknya, seorang yang mempunyai elektabilitas tinggi adalah orang yang populer. Penentu suatu pilihan, popularitas atau elektabilitas? Samakah pengertian popularitas dan elektabilitas itu? Apakah sebenarnya elektabilitas itu? Apa bedanya dengan popularitas?

Orang yang memiliki elektabilitas tinggi adalah orang yang dikenal baik secara meluas dalam masyarakat. Ada orang baik, yang memiliki kinerja tinggi dalam bidang yang ada hubungannya dengan jabatan publik yang ingin dicapai, tapi karena tidak ada yang memperkenalkan menjadi tidak elektabel. Sebaliknya, orang yang berprestasi tinggi dalam bidang yang tidak ada hubungannya dengan jabatan publik, boleh jadi mempunyai elektabilitas tinggi karena ada yang mempopulerkannya secara tepat. 

BEDA PENGERTIAN ELEKTABILITAS DAN POPULARITAS

Elektabilitas adalah tingkat keterpilihan yang disesuaikan dengan kriteria pilihan. Elektabilitas bisa diterapkan kepada barang, jasa maupun orang, badan atau partai. Elektabilitas sering dibicarakan menjelang pemilihan umum. Elektabilitas partai politik berarti tingkat keterpilihan partai politik di publik. Elektabilitas partai tinggi berarti partai tersebut memiliki daya pilih yang tinggi. Untuk meningkatkan elektabilitas maka objek elektabilitas harus memenuhi kriteria keterpilihan dan juga populer.

Sedangkan popularitas adalah tingkat keterkenalan di mata public. Meskipun populer belum tentu layak dipilih. Sebaliknya meskipun punya elektabilitas sehingga layak dipilih tapi karena tidak diketahui public, maka rakyat tidak memilih. Untuk meningkatkan elektabilitas maka sangat tergantung pada teknik kampanye yang dipergunakan. Dalam masyarakat yang belum berkembang, kecocokan profesi tidak menjadi persoalan. Yang perlu diingat, tidak semua kampanye berhasil meningkatkan elektabilitas. Ada kampanye yang menyentuh, ada kampanye yang tidak menyentuh kepentingan rakyat. Sementara itu ada kampanye yang berkedok sebagai survei, dengan tujuan untuk mempengaruhi orang yang sulit membuat keputusan dan sekaligus mematahkan semangat lawan. Bagaimana sobat setelah membaca perihal popularitas dan elektabilitas? Apakah penentu suatu pilihan dalam pemilu, pilkada atau pilpres itu sekedar berdasarkan popularitas, elektabiliatas, atau keduanya? 

Mari kita ambil contoh pemilihan produk. Jika ada beberap pilihan produk yang sama, maka apa dasar kita untuk memilih produk yang terbaik? Di antara beberapa produk, kemudian hanya satu dua produk yang memiliki tingkat keterpilihan (elektabilitas) tinggi. Bila melihat popularitas, semua produk sepeda motor yang ada di Indonesia itu popular. Kata elektabilitas bisa dikaitkan dengan sosok yang akan dipilih atau nama partai peserta pemilu. Tidak pernah ada elektabilitas itu dikaitkan dengan produk sepeda motor, padahal pada prakteknya elektabilitas produk sepeda motor itu yang menentukan dipilih atau tidaknya oleh pembeli.

Bagaimana bila dikaitkan dengan Pemilu, Pilkada atau Pilpres di Indoensia, apakah penentu pilihannya itu popularitas atau elektabilitas? Menjelang pemilihan umum (pemilu) yang makin dekat, partai-partai politik dan tokoh-tokoh yang berminat untuk maju dalam pemilu itu, sudah mulai bersiap-siap. Alasannya, istilah-istilah yang dipergunakan banyak yang masih sulit dicerna rakyat biasa. Kalau rakyat tidak tahu apa yang dikatakan, untuk apa ada kampanye?

Pertanyaan yang perlu kita kemukakan, apa yang menjadi tujuan dari kampanye itu? Apakah sekedar untuk popularitas dengan sering tampil, atau untuk meningkatkan elektabilitas? Istilah popularitas dan elektabilitas dalam masyarakat memang sering disamaartikan. Padahal keduanya mempunyai makna dan konotasi yang berbeda, meskipun keduanya mempunyai kedekatan dan korelasi yang besar.

Dalam masyarakat, sering diartikan, orang yang populer dianggap mempunyai elektabilitas yang tinggi. Sebaliknya, seorang yang mempunyai elektabilitas tinggi adalah orang yang populer. Popularitas dan elektabilitas tidak selalu berjalan seiring. Orang yang memiliki elektabilitas tinggi adalah orang yang dikenal baik secara meluas dalam masyarakat. Ada orang baik, yang memiliki kinerja tinggi dalam bidang yang ada hubungannya dengan jabatan publik yang ingin dicapai, tapi karena tidak ada yang memperkenalkan menjadi tidak elektabel. Sebaliknya, orang yang berprestasi tinggi dalam bidang yang tidak ada hubungannya dengan jabatan publik, boleh jadi mempunyai elektabilitas tinggi karena ada yang mempopulerkannya secara tepat
Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian merupakan salah satu kemampuan personal yang  harus dimiliki oleh seorang guru profesional dengan cara mencerminkan kepribadian yang mantap pada diri sendiri, bijaksana dan arif , dewasa dan berwibawa, mempunyai akhlak mulia menjadi  sauri teladan yang baik bagi peserta didik
Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional merupakan salah satu unsur yang harus dimiliki oleh Seorang guru yaitu dengan cara penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang terdiri dari  penguasaan materi kurikulum dalam mata pelajaran di sekolah dan beberapa substansi keilmuan yang menaungi materi, serta penguasaan terhadap stuktur dan metodologi keilmuannya

- Kompetensi Sosial


Kompetensi sosial merupakan salah satu Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru melalui cara – cara yang baik dalam berkomunikasi dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Dengan komunikasi yang aktif  maka seorang guru telah mampu menjadi fasilitator yang baik bagi perkembangan pendidikan
Arti Integritas bagi TNI AU

Seperti diuraikan sebelumnya, penulis sengaja menyampaikan apa ciri/karakter sebuah integritas bagi Angkatan Udara AS (USAF), sebuah angkatan udara yang terbesar dan termodern saat ini, sebagai perbandingan dengan karakter integritas bagi kita insan TNI AU. Ciri karakter/pembawaan dari sebuah integritas bagi TNI AU tertuang dalam nilai-nilai yang ada di dalam Sapta Marga.
 Memang, istilah integritas tidak akan kita temukan dalam Sapta Marga, akan tetapi ciri, karakter dari integritas itu sendiri seperti diuraikan oleh J.C. Benton termuat dalam Sapta Marga tersebut. 
 It’s just to make a comparison, mari kita tengok Marga ke 2 dari Sapta Marga :
  
“Kami patriot Indonesia pendukung serta pembela ideologi negara yang bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah.” 
 Dalam Marga ke 2 ini terkandung karakter integritas : tanggung jawab seperti yang diuraikan oleh Benton.
  
Selanjutnya mari kita lihat Marga ke 3 :
  
“Kami ksatria Indonesia yang bertaqwa kepada TYME serta membela kejujuran, kebenaran dan keadilan.”
  
Kalau kita simak Marga ke 3 ini maka termuat karakter : keberanian, kejujuran, akuntabilitas, keadilan. Dari karakter-karakter integritas yang diuraikan Benton, terlihat jelas terkandung dalam Marga ini.
  
Berikutnya bisa kita simak Marga ke 5 :
 “Kami prajurit TNI memegang teguh disiplin, patuh dan taat kepada pimpinan serta menjunjung tinggi sikap dan kehormatan prajurit.”

Dalam Marga ke 5 ini terkandung karakter tanggung jawab dan dan terutama menghargai diri sendiri (self resfect) seperti yang diuraikan oleh J.C. Benton.
  
Pada Marga ke 7, dapat kita cermati bahwa karakter sebuah integritas sangat kuat diamanatkan dalam marga ini, yakni :
  
“Kami prajurit TNI setia dan menepati janji serta sumpah prajurit.”

Marga ini mengamanatkan kepada seluruh prajurit TNI khususnya TNI AU untuk bertindak dan berbuat sesuai dengan apa yang diucapkan, apa yang dijanjikan, apa yang pernah disumpahkan. Dengan kata lain, Marga ke 7 ini menjadi kode etik bagi prajurit untuk satu, sejalan dan sama antara ucapan dan perbuatan.
  
So,……what’s the essential point ?


The Essential point yang dapat kita petik adalah bahwa meskipun istilah integritas belum diadopsi dalam Sapta Marga, namun ciri/karakter dari integritas itu sendiri sudah termuat dalam Sapta Marga. Setelah dibuat perbandingan seperti di atas, maka apa yang menjadi karakter dari integritas bagi Angkatan Udara AS (USAF) semua terkandung dalam Marga-marga dari Sapta Marga. Artinya, nilai-nilai dasar (core value) dari USAF sama baiknya kalau dilihat dari sisi kualitas dengan Sapta Marga sebagai kode etik (code of conduct) TNI. Kita patut merasa bangga karena para pendahulu TNI yang menyusun Sapta Marga sebagai landasan moral bagi seluruh prajurit TNI telah memasukkan secara konfrehensif nilai-nilai moral dan semangat pengabdian kepada bangsa dan negara. Sekarang berpulang kepada kita sebagai prajurit TNI AU, punyakah kita kemauan dan keberanian untuk menjadikan Sapta Marga sebagai kompas moral kita dalam mengabdi kepada TNI AU, dan tidak hanya menjadikannya sebagai sesuatu yang cukup dihafal dan diucapkan saja? (By Ltc. I Wayan Sulaba)
integritas dalam kehidupan sehari-hari. Lantas apa makna sebenarnya dari kata yang diterjemahkan dari kata integrity dalam bahasa Inggris ?
 Arti/makna leksikal dan gramtikal dari Integritas.
 a. Oxford Advanced Learner’s Dictionary. 
1) Integrity is the quality of being honest and having strong moral principles.
2) The state of being whole and not devided.

 b. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan tahun 2001 memaknai integritas sebagai : 
1) Mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; 
2) Kejujuran;
3) Integritas Nasional : wujud keutuhan prinsip moral dan etika bangsa di kehidupan bernegara

c. Kamus Inggris-Indonesia. Melalui kamus Inggris-Indonesia karangannya, John M. Echols dan Hassan Shadily memaknai integritas sebagai berikut : integrity : ketulusan hati, kejujuran, ; integritas : keutuhan.

“keterpilihan : “elektabilitas” 

Setiap orang perlu membangun integritas dirinya, agar dapat membangun integritas kelompok dan organisasi di mana ia berada. Kalau hal ini dilakukan, pada gilirannya akan dapat pula menyumbang ke arah pembentukan integritas masyarakat secara luas.

Bagaimana mengembangkan integritas pribadi? Beberapa langkah sederhana di bawah ini dapat menjadi pertimbangan bagi Anda dalam mengembangkan integritas pribadi: 
1. Berbicara Sesuai Kenyataan
Dari berbagai pengalaman bertemu dan berinteraksi dengan berbagai kalangan, saya belajar bahwa secara praktik nyata seseorang yang pernah berbohong, ingkar janji, atau pernah mengkhianati kepercayaan orang lain, itu disebut pribadi yang tidak jujur dan tidak memiliki integritas. Hal ini sejalan dengan pandangan agama yang menyatakan bahwa orang munafik itu memiliki tiga ciri utama, yakni:
• Apabila berbicara, ia bohong.
• Apabila berjanji, ia ingkari.
• Apabila diberi kepercayaan atau amanah, ia berkhianat.

Karenanya, untuk membangun integritas pribadi dalam pekerjaan, hindari tiga hal tersebut, seperti berbohong, mengingkari janji, dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan. Berbicaralah hanya sesuai dengan kenyataan yang ada. Memang diperlukan keberanian untuk mengungkapkan segala sesuatunya sesuai dengan kenyataan yang ada, terutama pada hal-hal yang bisa saja tidak mengenakkan.
2. Memenuhi Sesuai Apa yang Dijanjikan 
Orang yang memiliki integritas selalu melakukan sesuai dengan apa yang dijanjikannya. Dengan demikian, hindari untuk menjanjikan apa yang tidak dapat Anda lakukan, agar terhindar dari tindakan tidak menepati janji. Lebih baik menjanjikan dengan apa yang bisa Anda lakukan, sehingga dapat menjadi pribadi yang selalu menepati janji.

Pribadi yang memiliki integritas adalah pribadi yang selalu menepati janji yang telah dibuatnya. Ketika ia memberikan janji, ia sudah memperhitungkan hal itu sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ia akan bersungguh-sungguh memenuhi apa yang sudah dijanjikannya kepada orang lain.

Dalam aplikasi nyata dalam pekerjaan, berarti dituntut untuk senantiasa melaksanakan sesuai dengan apa yang sudah dijanjikannya, baik dalam hubungan dengan sesama rekan kerja, kepada atasan, kepada bawahan, ataupun kepada supplier dan konsume
3. Konsisten dalam Perkataan dan Perbuatan
Mereka yang dapat menjaga konsistensi antara perkataan dan perbuatan memiliki karakter terpuji. Kenyataan ini menunjukkan bahwa integritas adalah salah satu karakter terpuji. Berusaha menjaga konsistensi antara pikiran, perkataan, dan perbuatan merupakan salah satu cara membangun integritas pribadi. Pada akhirnya akan memiliki karakter terpuji secara konsisten dalam seluruh aspek kehidupan.

Menjadi seseorang yang memiliki integritas tinggi diperlukan komitmen untuk menjaga konsistensi antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Dapat selalu menepati janji sesuai dengan apa yang disampaikannya dalam perkataan dan tindakan. Tidak kalah penting adalah dapat memegang teguh amanah dari orang lain


Ringkasan Buku Integritas: Keberanian Memenuhi Tuntutan Kenyataan


Integritas. Lebih dari sekadar kejujuran. Inilah kunci menuju kesuksesan. Seseorang dengan integritas memiliki kemampuan-yang jarang ada-untuk menyatukan semuanya, untuk mewujudkan semuanya sesulit apa pun keadaannya.

Dr. Henry Cloud, berdasarkan pengalaman kerjanya dengan perusahaan Fortune 500, organisasi nirlaba, dan para pemimpin perorangan, menunjukkan cara karakter kita bisa menghambat upaya kita dalam mencapai semua yang kita inginkan.

Dalam Integritas, Dr. Cloud mengupas enam kualitas karakter yang mendefinisikan integritas. Ia menggunakan kisah-kisah pemimpin bisnis terkenal seperti Michael Dell dan tokoh olahraga seperti Tiger Woods untuk menggambarkan masing-masing kualitas ini. Ia menunjukkan kepada kita betapa orang berintegritas:
+ Mampu bersambung rasa dengan orang lain dan membangun rasa percaya
+ Berorientasi pada kenyataan
+ Menyelesaikan dengan baik
+ Merangkul yang negatif
+ Berorintasi pada peningkatan
+ Memahami hal-hal transenden

"Karakteristik nomor satu yang ingin dilihat orang dalam diri para pemimpin adalah integritas-orang-orang yang melakukan apa yang mereka katakan dan menjalani kehidupan yang bersih."
- Ken Blanchard, Rekan Penulis, The One Minute Manager





Senin, 26 Agustus 2013

JADILAH PEMIMPIN YANG JUJUR SETIA DAN AMANAH

Ada kata pepatah  tak kenal maka tak sayang ” Kenali dirimu, kenali lawanmu, kenali medan juangmu, maka kemenanganmu akan kau dapat”, hal utama untuk sukses adalah dengan cara mengenali diri sendiri. Mampu mengenali kelebihan dan kelemahan kita adalah langkah awal menuju sukses

My Strengths in Teamwork Skill
1. Mampu kompak dan solid untuk membangun suasana teamwork yang konstruktif.
2. Mampu menghargai pendapat, ide, maupun gagasan yang bertolak belakang dengan kita.
3. Tanggung jawab terhadap peran dalam teamwork


My Weakness in Teamwork Skill
1. Kurang cakap mengkomunikasikan opini/pendapat, jikapun bisa masih terbata bata.
2. Kurang percaya diri/ cemas jika perannya dalam teamwork dapat menggagalkan keberhasilan kelompok, sehingga terkadang sering menyalahkan diri sendiri jika terjadi kesalahan.

My Strengths in Leadership Skill
1. Pandai mengatur emosi. Emosi yang terlalu melonjak dapat menurunkan semangat anggota.
2. Tidak pilih kasih terhadap bawahan.
3. Tanggung jawab
4. Semangat memotivasi anggota

My Weakness in Leadership Skill
1. Kurang memahami bagaimana pembagian peran anggota dalam teamwork.
2. Butuh waktu untuk memahami kepribadian para anggota  teamwork
3. Kurang mampu untuk mengelola kelemahan anggota dan mengubahnya menjadi kekuatan/kelebihan.



Leadership: Teori Kepemimpinan
Kreiner menyatakan bahwa leadership adalah proses mempengaruhi orang lain yang mana seorang pemimpin mengajak anak buahnya secara sekarela berpartisipasi guna mencapai tujuan organisasi.
Sedangkan Hersey menambahkan bahwa leadership adalah usaha untuk mempengaruhi individual lain atau kelompok. Seorang pemimpin harus memadukan unsur kekuatan diri, wewenang yang dimiliki, ciri kepribadian dan kemampuan sosial untuk bisa mempengaruhi perilaku orang lain.
Genetic Theory
Pemimpin adalah dilahirkan dengan membawa sifat-sifat kepemimpinan dan tidak perlu belajar lagi. Sifat utama seorang pemimpin diperoleh secara genetik dari orang tuanya.
Traits theory
Teori ini menyatakan bahwa efektivitas kepemimpinan tergantung pada karakter pemimpinnya. Sifat-sifat yang dimiliki antara lain kepribadian, keunggulan fisik, dan kemampuan sosial. Karakter yang harus dimiliki seseorang manurut judith R. Gordon mencakup kemampuan istimewa dalam:
- Kemampuan Intelektual
- Kematangan Pribadi
- Pendidikan
- Statuts Sosial Ekonomi
- Human Relation
- Motivasi Intrinsik
- Dorongan untuk maju
Ronggowarsito menyebutkan seorang pemimpin harus memiliki astabrata, yakni delapan sifat unggul yang dikaitkan dengan sifat alam seperti tanah, api, angin, angkasa, bulan, matahari, bintang.
Behavioral Theory
Karena ketyerbatasan peramalan efektivitas kepemimpinan melalui trait, para peneliti mulai mengembangkan pemikiran untuk meneliti perilaku pemimpin sebagai cara untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan. Konsepnya beralih dari siapa yang memiliki memimpin ke bagaimana perilaku seorang untuk memimpin secara efektif.
a. Authoritarian, Democratic & Laissez Faire
Penelitian ini dilakukan oleh Lewin, White & Lippit pada tahun 1930 an. Mereka mengemukakan 3 tipe perilaku pemimpin, yaitu authoritarian yang menerapkan kepemimpinan otoriter, democratic yang mengikut sertakan bawahannya dan Laissez – Faire yang menyerahkan kekuasaannya pada bawahannya.
b. Continuum of Leadership behavior.
Robert Tannenbaum dan Warren H Schmidt memperkenalkan continnum of leadership yang menjelaskan pembagian kekuasaan pemimpin dan bawahannya. Continuum membagi 7 daerah mulai dari otoriter sd laissez – faire dengan titik dengan demokratis.
c. Teori Employee Oriented and Task Oriented Leadership – Leadership style matrix.
Konsep ini membahas dua orientasi kepemimpinan yaitu
- Kepemimpinan yang berorientasi pada pekerjaan dimana perilaku pemimpinnya dalam penyelesaiannya tugasnya memberikan tugas, mengatur pelaksanaan, mengawasi dan mengevaluasi kinerja bawahan sebagai hasil pelaksanaan tugas.
- Kepemimpinan yang berorientasi pada pegawai akan ditandai dengan perilaku pemimpinnya yang memandang penting hubungan baik dan manusiawi dengan bawahannya.
Pembahasan model ini dikembangkan oleh ahli psikologi industri dari Ohio State University dan Universitas of Michigan. Kelompok Ohio mengungkapkan dua dimensi kepemimpinan, yaitu initiating structure yang berorientasi pada tugas dan consideration yang berorientasi pada manusia. Sedangkan kelompok Michigan memakai istilah job-centered dan employee-centered.
d. The Managerial Grid
Teori ini diperkenalkan oleh Robert R.Blake dan Jane Srygley Mouton dengan melakukan adaptasi dan pengembangan data penelitian kelompok Ohio dan Michigan.
Blake & Mouton mengembangkan matriks yang memfokuskan pada penggambaran lima gaya kepemimpinan sesuai denan lokasinya.
Dari teori-teori diatas dapatlah disimpulkan bahwa behavioral theory memiliki karakteristik antara lain:
- Kepemimpinan memiliki paling tidak dua dimensi yang lebih kompleks dibanding teori pendahulunya yaitu genetik dan trait.
- Gaya kepemimpinan lebih fleksibel; pemimpin dapat mengganti atau memodifikasi orientasi tugas atau pada manusianya sesuai kebutuhan.
- Gaya kepemimpinan tidak gifted tetapi dapat dipelajari
- Tidak ada satupun gaya yang paling benar, efektivitas kepemimpinan tergantung pada kebutuhan dan situasi
Situational Leadership
Pengembangan teori ini merupakan penyempurnaan dari kelemahan-kelemahan teori yang ada sebelumnya. Dasarnya adalah teori contingensi dimana pemimpin efektif akan melakukan diagnose situasi, memilih gaya kepemimpinan yang efektif dan menerapkan secara tepat.
Empat dimensi situasi secara dinamis akan memberikan pengaruh terhadap kepemimpinan seseorang.
- Kemampuan manajerial : kemampuan ini meliputi kemampuan sosial, pengalaman, motivasi dan penelitian terhadap reward yang disediakan oleh perusahaan.
- Karakteristik pekerjaan : tugas yang penuh tantangan akan membuat seseorang lebih bersemangat, tingkat kerjasama kelompok berpengaruh efektivitas pemimpinnya.
- Karakteristik organisasi : budaya organisasi, kebijakan, birokrasi merupakan faktor yang berpengaruh pada efektivitas pemimpinnya.
- Karakteristik pekerja : kepribadian, kebutuhan, ketrampilan, pengalaman bawahan akan berpengaruh pada gaya memimpinnya.
a. Fiedler Contingency model
Model ini menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif tergantung pada situasi yang dihadapi dan perubahan gaya bukan merupakan suatu hal yang sulit.
Fiedler memperkenalkan tiga variabel yaitu:
- task structure : keadaan tugas yang dihadapi apakah structured task atau unstructured task
- leader-member relationship : hubungan antara pimpinan dengan bawahan, apakah kuat (saling percaya, saling menghargai) atau lemah.
- Position power : ukuran aktual seorang pemimpin, ada beberapa power yaitu:
-> legitimate power : adanya kekuatan legal pemimpin
-> reward power : kekuatan yang berasal imbalan yang diberikan pimpinan
-> coercive power : kekuatan pemimpin dalam memberikan ancaman
-> expert power : kekuatan yang muncul karena keahlian pemimpinnya
-> referent power : kekuatan yang muncul karena bawahan menyukai pemimpinnya
-> information power : pemimpin mempunyai informasi yang lebih dari bawahannya.
b. Model kepemimpinan situasional ‘Life Cycle’
Harsey & Blanchard mengembangkan model kepemimpinan situasional efektif dengan memadukan tingkat kematangan anak buah dengan pola perilaku yang dimiliki pimpinannya.
Ada 4 tingkat kematangan bawahan, yaitu:
- M 1 : bawahan tidak mampu dan tidak mau atau tidak ada keyakinan
- M 2 : bawahan tidak mampu tetapi memiliki kemauan dan keyakinan bahwa ia bisa
- M 3 : bawahan mampu tetapi tidak mempunyai kemauan dan tidak yakin
- M 4 : bawahan mampu dan memiliki kemauan dan keyakinan untuk menyelesaikan tugas.
Ada 4 gaya yang efektif untuk diterapkan yaitu:
- Gaya 1 : telling, pemimpin memberi instruksi dan mengawasi pelaksanaan tugas dan kinerja anak buahnya.
- Gaya 2 : selling, pemimpin menjelaskan keputusannya dan membuka kesempatan untuk bertanya bila kurang jelas.
- Gaya 3 : participating, pemimpin memberikan kesempatan untuk menyampaikan ide-ide sebagai dasar pengambilan keputusan.
- Gaya 4 : delegating, pemimpin melimpahkan keputusan dan pelaksanaan tugas kepada bawahannya.
Transformational Leadership
Robert house menyampaikan teorinya bahwa kepemimpinan yang efektif menggunakan dominasi, memiliki keyakinan diri, mempengaruhi dan menampilkan moralitas tinggi untuk meningkatkan karismatiknya. Dengan kharismanya pemimpin transformational akan menantang bawahannya untuk melahirkan karya istimewa.
Langkah yang dilaksanakan pemimpin ini biasanya membicarakan dengan pengikutnya bagaimana pentingnya kinerja mereka, bagaimana bangga dan yakinnya mereka sebagai anggota kelompok, bagaimana istimewanya kelompok yang akan menghasilkan karya luar biasa.

Senin, 29 Juli 2013

MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1434.H

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI SATU SYAWAL 1434.H MOHON ,MAAF LAHIR DAN BATHIN TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM MINAL AIDIN WALFAIDZIN

Gema takbir berkumanadang menggetarkan hati “Allahu Akbar 3x Walillah irhamd” Sucikan hati bersihkan jiwa, mari kita sambut iedul fitri dengan kembali pada kusucian, “Taqabbalallahu minna wa minkum taqabal ya karim…”. Mohon maaf lahir dan batin
Bismillah. Assalamualaikum. Saya dan keluarga  juga mohon maaf atas salah dan khilaf. Mungkin bahkan pasti selama kita berinteraksi ada kata dan tingkah saya yang kurang berkenan. Minal Aidzin wal Faizin, Maafkan Lahir dan Batin.
KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDU; FITRI MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN SEMOGA KITA SEMUA AMAL AMAL KITA DAN DOSA KITA DIAMPUNKAN  DITERIMA DISISI ALLAH SWT SWT

Senin, 27 Mei 2013

MENGAPA HARUS JUJUR

Kejujuran harus dihargai untuk menjadi kebijakan – kebijakan bukan istilah,sejujurnya dengan jujur pada diri sendiri kepada orang lain akan diikuti pula sama orang lain.
Seseorang tidak pernah berbuat kejujuran biasanya Tidak pernah Dilupakan apa yang dia perbuat Contohnya Berbohong, Berjanji,Menipu.


Seseorang yang melakukan Kejujuran pada orang lain selalu Dilupakan apa yang dia lakukan contohnya berbuat baik membantu orang, melakukan hal yang benar dan menolong dari kesusahan.

Ada tiga jenis tidak kejujuran :
-          Pertama adalah Aku yang berkata :” Aku  Benar dan orang lain selalu Salah
-         Kedua Adalah Mereka yang berkata : ” Mereka selalu benar dan orang lain selalu Disalahkan ”.

-         Ketiga adalah Kami yang berkata : ” Kami selalu benar dan dia selalu Menyalakan orang lain”.
Menjimak dari tiga jenis ketidak jujuran dapat diambil kesimpulan bahwa Kejujuran dan Kebenaran dapat disimpulkan ” Mengakui Kesalahan Menunjukan Kebesaran Jiwa ”.
Beberapa yang harus diperhatikan : mengapa
Beberapa yang harus diperhatikan : mengapa
-          Belajarlah menerima kesalahan
-          Terima tantangan nasib
-          Berbuat baik kepada orang lain
-          Menerima sudut pandang orang lain
-          Hargailah kejujuran orang lain
-          Gunakan waktu yang berguna
-          Jadilah pendengar yang baik
-          Jangan memandang rendah orang lain
-          Hormati kemampuan orang lain
Lebih baik kenali diri sendiri sebelum mengenali diri orang lain
- Apa yang saya dapat pada diri saya dan apa yang saya berikan untuk pada diri saya
- Apa yang saya perbuat pada diri saya dan apa yang saya dapat lakukan untuk diri saya

Artinya Bercermin pada diri sendiri

Apakah Saya sudah Jujur dan Berbuat baik kepada orang lain



Tidak ada orang yang bisa mengalahkan Kejujuran kecuali dia tidak lagi berbohong hanya mereka melalukan kebenaran dan keadilan serta doa mari kita bersama melakukan kebaikan dan juga bagi diri kita semua




Minggu, 07 April 2013

PERUBAHAN JIWA PEMIMPIN


PEMIMPIN DAPAT MENCIPTAKAN IKLIM UNTUK PERUBAHAN




•Pemimpin harus mengembangkan kepercayaan kepada orang lain.

•Pemimpin harus membuat perubahan pribadi sebelum meminta  orang lain agar berubah

•Pemimpin yang baik harus memahami sejarah organisasi

•Tempatkan pemberi pengaruh pada kedudukan pemimpin

•Perikasalah dukungan emosional pengikut

•Pemimpin yang baik mencari dukungan pemberi pengaruh      sebelum  perubahan diumumkan


•Kembangkanlah agenda pertemuan Untuk menciptakan diskusi, sampai pengikut menganggap perubahan adalah gagasan yang baik.

•Doronglah pemberi pengaruh untuk mempengaruhi orang lain secara   tidak resmi.

•Buat orang banyak merasa memiliki atas perubahan. Dengan cara:  beri informasi sebelumnya, jelaskan tujuan perubahan, tunjukkan   bagaimana perubahan itu akan menguntungkan, minta mereka   berperan serta.

"Pemimpin sejati senantiasa mau belajar cerdas dan jujur bertumbuh dalam berbagai aspek dalamSpiritual Intelligence,baik pengetahuan, kesehatan, keuangan, relasi, dan sebagainya. Setiap hari senantiasa menselaraskan dirinya adil terhadap komitmen dirinya untuk melayani  sesamanya dan selalu ingat maha Pencipta"




"Pemimpin merasakan situasi tidak mudah. Walau berat  pressure tinggi dan penuh ketidak pastian dan hampir pasti mengambil risiko agar selalu bersikap cerdas dan cekatan memimpin berkompetisi agar Tujuan visi misi nya berhasil "

Bersabarlah, sampai datang waktu di mana engkau mengerti, bahwa ini semua adalah untuk kebaikanmu. Seperti semua keburukan yang telah kau lalui sebelumnya yang ternyata menyampaikanmu kepada keadaan yang lebih baik.